Bersyukurlah karena Tuhan mengirimkan seorang nabi sempurna yang telah menyemai benih salah satu peradaban besar dunia. Dan berbahagialah karena Tuhan telah menghiasi peradaban itu dengan keindahan dan keberisian cita makna. Islam datang dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang maha indah yang hanya dapat dicapai dengan pengalaman pribadi yang tiada sempurna mampu dilukis kata. Jangan pernah katakan agama yang dibawa Sang Cahaya Ilahi ini miskin rasa dan makna. Di sinilah kau lihat dan akan kau temukan apa yang selalu kau sangsikan keberadaanya. Sebuah penerimaan baru yang belum pernah kau rasa. Mari! Kau yang selalu dihinggapi rindu dan cinta, bersamalah kami menyelami kesejukan samudera yang maha dalam ini. Di sinilah rindu dan cintamu akan terpuaskan.

Farriduddin Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim lebih dikenal dengan nama Attar, si penyebar wangi. Meskipun sedikit yang diketahui dengan pasti tentang hidupnya, namun agaknya dapat dikatakan bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 506 H/1119 dekat Nisyapur di Persia Barat-Laut (tempat kelahiran Umar Khayyam) dan meninggal sekitar tahun 607 H/1220 di Syaikhuhah.

Farriduddin ‘Attar pada mulanya hanyalah seorang pemilik sebuah kedai minyak wangi sebelum ia menjalani kehidupan tasawufnya. Dikisahkan bahwa kedainya kedatangan seorang Darwis berpakaian jubah wool. Darwis itu menangis ketika menghirup wewangian minyak wangi di kedai ‘Attar. Karena menganggap Darwis ini hendak meminta belas, ‘Attar-pun menyuruh sang Darwis pergi. Tetapi sang Darwis tidak mau pergi dan berkata pada ‘Attar; “Tidak ada yang dapat menghalang saya dari meninggalkan kedaimu ini, dan mengucapkan selamat tinggal kepada dunia yang bobrok ini. Apa yang ada padaku hanyalah jubah bulu domba yang lusuh ini, tetapi aku justru kasihan kepadamu, bagaimanakah kau dapat mengubah pandangan kau kepada persoalan maut dan meninggalkan harta benda dunia ini?” Dan setelah berkata demikian sang Darwis meninggal di kedai ‘Attar.

Peristiwa inilah yang disinyalir membawa perubahan pada diri ‘Attar. Sejak saat itu ia mulai berkelana mencari guru-guru sufi untuk menemukan hakikat hidupnya. Meskipun jarang disebutkan tentang pengalamannya ketika berkelana, namun menurut hemat penulis ‘Attar telah berhasil mengalami pengalaman mistik dan menemukan jati dirinya. Dan dalam Mantiq al-Tayr (Persidangan atau Musyawarah Burung) inilah ia memanifestasikan pengalaman yang pernah ia jalani agar lebih mudah dipahami.

Mantiq al-Tayr sendiri berkisah tentang perjalanan sekawanan burung untuk mencari raja mereka yang disebut sebagai Simurgh di Puncak Gunung Kaf yang agung itu. Dalam perjalanan itu, para burung yang dipimpin oleh Hud-hud harus melalui tujuh jalan yang melambangkan tingkatan-tingakatan keruhanian.

Pertama, jalan pencarian (talab). Di jalan inilah seorang pencari mulai menjalani kehidupan spiritualnya. Barbagai macam godaan duniawi harus dapat ia takhlukkan untuk dapat mencapai jalan berikutnya. Pada tahapan ini pengupayaan pembersihan diri harus diupayakan sesempurna mungkin. Para pencari diharuskan berjuang dengan gigih untuk mendapatkan cahaya ilahi yang didambanya dengan menghilangkan hasrat-hasrat duniawinya. Hasrat duniawi ini jangan diartikan dengan meninggalkan dunia sepenuhnya. Menurut Dr. Abdul Hadi W.M. hasrat duniawi yang harus ditinggalkan para pencari adalah hasrat dengan ciri-ciri hedonis, yang melihat kesenangan duniawi sebagai segala-galanya

Kedua, jalan cinta. Di tahapan ini sang pencari harus menemukan cinta sejati dalam dirinya untuk dapat menghalau tangan hitam akal yang menutupi ketajaman mata batin. Hanya dengan mata batinlah para pencari kebenaran ini dapat melihat realita apa adanya. Mata hati tidak dapat dibohongi. Dalam kecintaanya, seorang pencari haruslah memiliki kesudian untuk mengorbankan apa-apa darinya demi yang diharapkannya—yang dicintanya. Keikhlasan dalam berkurban menunjukkan seberapa besar cintanya pada kekasihnya. Demikianlah jalan kedua merupakan jalan pengujian akan cinta seorang pencari cinta, atas nama cinta. Dengan mata batin manusia akan menemukan sesuatu berdasarkan hakekatnya, bukan hanya dari segi fisik belaka.

Berkenaan dengan ini saya menjadi teringat akan kisah Yusuf dan Zulaikha yang disebutkan di dalam al-Qur’an. Kisah percintaan sejati yang mengabaikan keindahan fisik demi satu keindahan ruhani. Diceritakan bahwa ketika Zulaikha masih muda dan berstatus istri wazir Mesir, ia jatuh hati pada Yusuf bin Ya’qub anak angkat suaminya. Di masa mudanya, secara fisik Zulaikha adalah wanita yang benar-benar cantik, paling tidak di kawasan Mesir saat itu. Demi melihat ketampanan Yusuf, jatuh cintalah ia pada pemuda ini. Zulaikha akhirnya mengutarakan juga hasratnya itu pada Yusuf. Namun, ada sesuatu yang membuat Yusuf merasa tidak tertarik dengan Zulaikha. Selain wanita ini masih bersuami, menurut Yusuf ia bukan kriteria wanita yang diidamkannya, karena kelakuannya. Bagi Yusuf kecantikan bukan soal fisik semata. Kecantikan terpancar karena dalam tubuh memancar kecantikan jiwa pemiliknya, wanita seperti inilah yang diharapkan putra Ya’qub ini sebagai pendampingnya.

Namun, setelah beberapa tahun dan ketika usia Zulaikha sudah menua, Yusuf berbalik menjadi begitu mencintai wanita yang dulu pernah ditolaknya. Hal ini karena Zulaikha telah merubah sikap dan kelakuannya. Wanita ini telah menjadi seorang yang taat beribadah, dan berbudi pekerti luhur. Zulaikha telah mengorbankan segalanya demi Yusuf dan pada akhirnya Yusuf-pun tidak memperdulikan kondisi fisik Zulaikha yang telah menua, mereka tetap saling mencintai dengan cahaya kerupawanan ruhani masing-masing.

Cerita di dalam al-Qur’an ini tentu memberi pesan kepada kita bahwa seseorang itu tidak dapat dinilai dari segi fisiknya saja. Kadang ada orang yang dari segi fisik tidak begitu menarik, tetapi memiliki kerupawanan ruhani. Demikian pula dengan orang yang memiliki keelokkan fisik belum tentu memiliki kerupawanan ruhani.

Ketiga, jalan kearifan. Seorang pencari setelah mata hatinya terbuka dan dapat melihat jelas realita ciptaannya, maka otomatis kearifan akan menyertai kehidupannya. Jalan makrifat dapat dilalui dengan cara tata cara ibadah yang khusuk, dan latihan-latihan penempaan diri dalam. Tentu setelah melalui jalan cinta. Tapi jika diperhatikan dengan seksama hubungan antara makrifat dan cara memperolehnya, masih nampak ada kesulitan di sini untuk mengerti. Bentuk ibadah sekhusuk apa yang harus dilakukan untuk dapat mencapai kemakrifatan ini.Realita ibadah adalah ritual fisik sedangkan kemakrifatan yang dicapai adalah ruhaniah. Bagaimana ini terhubung?

Melihat pola hubungan ini saya hanya dapat sampai pada kesimpulan bahwa makrifat memang dapat dicapai dengan ritual-ritual fisik ibadah yang disertai cinta seperti yang ada pada tahapan sebelum tingkatan ini, yaitu cinta. Kesungguhan hati untuk mencari dilandasi cinta pada yang dicarinya pada akhirnya membuka pintu kearifan ini.

Keempat, jalan kebebasan. Jalan ini adalah tahapan para pencari sudah mampu menghilangkan nafsu untuk mendapatkan sesuatu dengan mudah atau dengan ikhtiar biasa. Dalam tingkatan ini kesibukan seorang pencari akan fokus pada hal-hal yang utama dan hakiki. Dia melihat segala seakan biasa, tanpa ada yang menakjubkan.

Keenam, jalan hayat atau ketakjuban. Dalam jalan ini sang pencari akan mengalami ketakjuban luar biasa karena semua menjadi serba terbalik. Siang jadi malam, malam jadi siang. Semuanya serba berubah. Dari hal ini saya mendapatkan sedikit gambaran tentang adanya perubahan-perubahan ini. perubahan-perubahan ini menurut saya merupakan tanda bahwa pengalaman-pengalaman fisis pada kita tidak mampu untuk bersinergi dengan ke-tetap-an yang akan diraih oleh seorang pencari pada jalan berikutnya. Siang menjadi malam dan malam menjadi siang menjadi semacam peringatan pada para pencari bahwa alam fisis itu tidak mampu mengadaptasikan dirinya pada kesempurnaan. Ketika sampai pada level ini pengalaman-pengalaman fisis tadi laksana lukisan yang disiram minyak, luntur dan tidak jelas lagi bentuknya.

Ketujuh, jalan faqir. Ketika sampai pada level ini, sang pencari akan menemukan dirinya secara utuh. Tanpa embel-embel apapun pada dirinya. Yang ditemukannya hanyalah dirinya dan hakikat dirinya. Setelah tahap inipun sang pencari akan menemukan simurgh yang tak lain adalah hakikat dirinya sendiri.

Melalui Musyawarah Burung ini, ‘Attar mengajarkan pada kita bagaimana menjadi seorang pencari sejati. Dan dia pernah membuktikannya.